The Just World Fallacy
bias kognitif yang membuat kita percaya orang jahat pasti akan kena batunya
Pernahkah kita menonton film thriller, lalu merasa sangat lega saat si penjahat utamanya akhirnya jatuh dari gedung atau ditangkap polisi? Rasanya memuaskan sekali, bukan? Kita seolah punya keyakinan absolut bahwa pada akhirnya, kejahatan pasti akan berbalas. Orang jahat akan kena batunya. Di kehidupan sehari-hari, kita sering menyebut fenomena ini dengan istilah "karma". Kalau ada koruptor tertangkap atau orang arogan tiba-tiba bangkrut, kita tersenyum simpul. Kita bergumam di dalam hati, "Tuh kan, alam semesta tidak pernah tidur." Tapi, mari kita jeda sejenak dan berpikir kritis bersama-sama. Apakah alam semesta benar-benar punya tim audit yang memastikan semua orang mendapat balasan setimpal?
Mari kita buka sedikit lembaran sejarah. Fakta sering kali lebih dingin dari naskah film Hollywood. Kenyataannya, banyak tiran dan manusia paling kejam di dunia tidak mati di tiang gantungan. Idi Amin, misalnya, menghabiskan masa tuanya di pengasingan yang sangat mewah. Pol Pot, tokoh di balik lenyapnya jutaan nyawa, meninggal dengan tenang di tempat tidurnya karena usia tua. Ketika melihat fakta-fakta historis ini, biasanya ada perasaan tidak nyaman yang merayap di dada kita. Rasanya ada yang salah. Rasanya dunia ini rusak. Otak kita secara otomatis menolak realitas bahwa orang jahat bisa saja menang, lolos dari hukuman, dan hidup bahagia. Mengapa kita begitu putus asa ingin percaya bahwa dunia ini punya sistem keadilan kosmis, padahal bukti sejarah sering berteriak sebaliknya?
Rasa tidak nyaman itu sebenarnya adalah petunjuk penting. Itu adalah kunci untuk memahami cara kerja mesin di dalam kepala kita. Pada tahun 1960-an, seorang psikolog bernama Melvin Lerner merasa sangat penasaran dengan fenomena ini. Ia kemudian merancang sebuah eksperimen psikologi klasik. Ia mengundang sekelompok orang untuk melihat seorang wanita yang sedang diberi "kejutan listrik". Tentu saja ini hanya akting, tapi para partisipan tidak tahu. Awalnya, penonton merasa kasihan dan bersimpati melihat wanita itu kesakitan. Namun, eksperimen ini punya satu aturan main yang krusial: penonton tidak berdaya. Mereka tidak bisa menghentikan kejutan listrik tersebut. Mereka hanya bisa duduk dan menonton. Apa yang terjadi selanjutnya sangat mengejutkan. Ketika partisipan sadar mereka tidak bisa menyelamatkan wanita itu, empati mereka pelan-pelan menguap. Sikap mereka berubah drastis. Mereka mulai memberikan komentar negatif tentang si korban. Mereka menyimpulkan bahwa wanita itu pasti melakukan suatu kesalahan bodoh sehingga ia pantas disetrum. Tunggu dulu. Mengapa otak manusia yang katanya penuh empati malah tiba-tiba menyalahkan korban yang sedang menderita?
Inilah momen kejutannya. Fenomena ganjil ini dalam ilmu psikologi disebut sebagai The Just-World Fallacy atau bias dunia yang adil. Ini adalah temuan hard science yang sedikit banyak menampar ego kita. Secara evolusioner, otak manusia didesain untuk mencari pola, keamanan, dan kepastian. Jika dunia ini acak, tidak adil, dan orang baik bisa menderita tanpa alasan yang jelas, itu berarti kita juga bisa bernasib sama besok pagi. Pemikiran seperti itu terlalu mengerikan untuk diproses oleh sistem saraf kita setiap hari. Jadi, untuk melindungi kewarasan kita, otak menciptakan sebuah ilusi pelindung. Bias kognitif ini membisikkan kebohongan yang menenangkan: "Tenang saja, dunia ini adil. Orang baik akan selamat, orang jahat akan hancur." Sayangnya, mekanisme pertahanan psikologis ini punya efek samping yang gelap. Demi mempertahankan keyakinan bahwa dunia ini masuk akal, kita sering kali secara tidak sadar terjerumus pada victim-blaming (menyalahkan korban). "Ah, dia dirampok pasti karena jalan sendirian malam-malam." "Orang itu miskin pasti karena dia malas." Kita menghakimi korban bukan karena kita pada dasarnya jahat. Kita melakukannya karena kita terlalu takut mengakui bahwa tragedi yang sama bisa menimpa kita kapan saja, tak peduli seberapa baiknya kita berbuat.
Menyadari fakta neurologis ini mungkin membuat kita merasa sedikit gamang. Tidak apa-apa, teman-teman. Saya pun merasakan hal yang sama saat pertama kali menyelami konsep ini. Mengetahui bahwa keadilan tidak beroperasi seperti mesin penjual otomatis memang meresahkan. Namun, menyadari keberadaan The Just-World Fallacy di kepala kita sebenarnya adalah langkah pertama menuju empati yang sejati. Ketika kita berhenti menuntut alam semesta untuk menghukum orang jahat secara otomatis, kita mulai sadar satu hal yang sangat penting. Tugas menciptakan keadilan ada di tangan kita sendiri. Alam semesta pada dasarnya netral. Ia tidak adil, tapi ia juga tidak punya niat buruk. Keadilan bukanlah hukum fisika seperti gravitasi yang terjadi begitu saja. Keadilan adalah sesuatu yang harus manusia ciptakan, perjuangkan, dan rawat bersama-sama. Dan menurut saya pribadi, fakta bahwa kita masih mau peduli dan menolong satu sama lain di tengah dunia yang serba tidak pasti ini, jauh lebih indah daripada sekadar pasif menunggu orang jahat kena batunya.